Komoditas Lesu, Asing Tinggalkan Saham United Tractors Rp 3 T

Data Bursa Efek Indonesia mencatat pada perdagangan pukul 11.23 WIB, saham UNTR amblas 4,31% di level Rp 22.175/saham dengan nilai transaksi Rp 104 miliar dan volume perdagangan 4,16 juta saham.
Dalam setahun terakhir, saham UNTR amblas 33% dan secara year to date atau sejak Januari hingga 12 Agustus ini, saham emiten alat berat Grup Astra ini anjlok 19%.
Investor asing hari ini melepas (net sell) saham UNTR sebesar Rp 34 miliar, sepekan terakhir asing lego saham ini hingga Rp 146 miliar dan setahun terakhir saham UNTR dilepas asing hingga Rp 3,35 triliun di semua pasar (pasar reguler net sell Rp 3,01 triliun).
Dari sisi kinerja, pada semester I-2019, perusahaan mencatatkan penurunan penjualan alat berat Komatsu hingga 17,85% secara tahunan (year-on-year/YOY).
Namun penurunan tersebut tidak menekan pos pendapatan UNTR. Pasalnya, dalam rilis laporan keuangan terbaru, hingga akhir Juni 2019, total pendapatan perusahaan meningkat 11,23% YoY menjadi Rp 43,32 triliun, dari perolehan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 38,94 triliun.
Laba bersih perusahaan pada semester I-2019 tercatat sebesar Rp 5,58 triliun, atau naik tipis 1,75% YoY dibandingkan capaian semester I-2018 yang sebesar Rp 5,48 triliun.
Katalis negatif bagi sektor alat berat tahun ini ialah penurunan harga komoditas tambang dan sawit, karena berkaitan dengan permintaan alat berat untuk kedua sektor tersebut.
Akhir pekan lalu (Jumat 9 Agustus), harga batu bara acuan Newcastle ditutup di level US$ 69,8/metrik ton. Harga batu bara acuan untuk kontrak pengiriman September ini sudah amblas 3,99% dalam sepekan terakhir.Perang dagang tampaknya masih membuat tekanan terhadap harga batu bara. Akhir pekan lalu (9/8/2019) Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa Washington masih terus melanjutkan perundingan dagang dengan China, seperti dikutip dari Reuters.
Selain itu, harga sawit juga masih tertekan. Bahkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pun semakin resah dengan kondisi yang dihadapi industri minyak sawit Indonesia. Ketidakpastian dalam dinamika pasar minyak nabati dunia membuat harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tetap bergerak pada kisaran harga rendah.
"Sementara itu, pertumbuhan daya serap pasar minyak sawit di dalam negeri juga tidak terlalu besar," ujar Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono, dalam siaran pers yang diterima CNBC Indonesia, Kamis (08/08/2019).
Dari sisi harga, sepanjang semester I-2019 harga CPO global bergerak di kisaran US$ 492,5 - US$ 567,5 per metrik ton dengan harga rata-rata di kisaran US$ 501,5 - US$ 556,5 per metrik ton.
Sinergi Astra hadapi harga CPO yang anjlok.
Halaman Selanjutnya >>>>
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Komoditas Lesu, Asing Tinggalkan Saham United Tractors Rp 3 T"
Post a Comment