Friksi Dagang AS-China Mengendur, Tapi Ketegangan Masih Ada

Pada Jumat (11/10/2019), IHSG menguat 82 poin lebih atau terapresiasi 1,36%, indeks Kospi naik 0,81%, indeks Straits Times melesat 0,79%, indeks Hang Seng terangkat 2,34% dan indeks Nikkei melejit 1,15%. IHSG mengokohkan posisinya sebagai runner up jika dibandingkan dengan indeks utama bursa kawasan Asia yang disebutkan di atas pada hari penutupan perdagangan pekan kemarin.
Senada dengan bursa saham, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga ditutup menguat 0,16%. Mata uang Benua Kuning lainnya yang juga kompak ditutup menguat terhadap AS yaitu Won dari Negeri Ginseng yang terapresiasi sebesar 0,53%, Yuan China juga terangkat 0,4% dan Ringgit Negeri Jiran yang mengalami kenaikan sebesar 0,07%.
Sejatinya ekonomi Indonesia tumbuh melambat pada 2019. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5% lebih rendah dibandingkan dengan prediksi pada April yang berada di angka 5,1%.
Selain itu Survei Penjualan Eceran (SPE) bulan Agustus Bank Indonesia (BI) juga tercatat tumbuh tipis yaitu 1,1% secara year on year (YoY). Jika dibandingkan dengan bulan lalu angka pertumbuhan ini lebih rendah mengingat penjualan ritel bulan Juli mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,4% (YoY).
Beberapa indikator lain juga mengindikasikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat. Berdasarkan rilis data Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI, kegiatan usaha di Indonesia masih tumbuh positif walau lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya. Hal tersebut tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang kuartal III yang berada di angka 13,39% atau lebih rendah 5,78 persentase poin dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Kinerja sektor industri pengolahan juga masih tumbuh ekspansif walau senada dengan SKDU yang melambat. Hal ini tercermin dari angka Prompt Manufacturing Indeks yang berada di level 52,04% pada kuartal III, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang mencapai 52,66%. Angka di atas 50 mengindikasikan adanya aktivitas ekspansi.
Ekonomi Indonesia memang tumbuh melambat. Namun angin segar yang berhembus dari perundingan dagang AS-China cukup kuat untuk membawa IHSG dan indeks bursa Benua Kuning lain finish di zona hijau pada akhir perdagangan Jumat lalu.
Friksi dagang yang berlangsung lebih dari satu tahun ini memang sudah membuat ekonomi global melambat. Dengan adanya kesepakatan awal yang dibuat kedua belah pihak setidaknya menjadi secercah harapan adanya perbaikan ekonomi global yang mengembalikan risk appetite investor sehingga mengerek naik aset-aset berisiko seperti saham.
(BERLANJUT KE HALAMAN 2)
(twg/sef)
Halaman Selanjutnya >>>>
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Friksi Dagang AS-China Mengendur, Tapi Ketegangan Masih Ada"
Post a Comment